Kehidupan Metropolitan
Nama : Muhammad Iqbal Rashid
Mata Kuliah : Penulisan
Kreatif
Kehidupan
Metropolitan
Sejauh
50 kilometer dari Jakarta, di sebuah kabupaten kecil bernama Bekasi, di situlah
aku tinggal. Untuk lebih tepatnya aku tinggal di daerah Cikarang Selatan
berdekatan dengan kompleks apartemen yang mungkin sudah banyak kalian dengar
dan lihat di televisi yaitu Meikarta. Tempat di mana aku tinggal lumayan ramai
namun tetap rapi dan terurus oleh para pengembang perumahan. Sekitar 3 kilometer
dari rumahku saja kita bisa langsung dapat menemui pusat perbelanjaan,
minimarket, dan restoran cepat saji besar. Hal-hal seperti ini membuat aku
bahagia karena aku sangat suka suasana perkotaan. Aku sangat bersyukur dapat
tinggal di sini karena dengan mudahnya akses ke mana-mana dapat memudahkan segala
urusanku dalam hal apa pun.
Rumah
bercat hijau dengan taman kecil dipenuhi oleh tumbuh-tumbuhan kecil yang
membuat rumah menjadi lebih asri. Di sebelahnya ada pipa hidroponik untuk menumbuhkan
sayur-sayuran kecil sebagai lalap. Seekor kucing jantan berwarna hitam dan dua
kucing betina meramaikan rumah kami. Kucing jantan itu bernama Miko, ia peranakan
persia jadi badannya besar dan bulunya sangat lebat. Miko sangat sering berkelahi
dengan kucing kompleks di daerah sini karena mungkin sudah menjadi sifat kucing
jantan untuk menguasai daerah tempat mereka tinggal. Rumahku mungkin tidak
besar dan megah namun rumah kecilku sangat nyaman untuk ditinggali. Ayah dan
kakak kerja dari pagi hingga sore dan ibuku adalah seorang relawan kemanusiaan,
bila ada bencana seperti banjir ia selalu membantu dengan menggalang dana
datang ke lokasi untuk pemberian sembako, bahkan hingga membawa ambulans untuk pemberian
obat-obatan dan pertolongan pertama jika ada yang terluka
Sebelumnya,
aku pernah tinggal di perumahan yang lebih ramai dan padat dari aku lahir ke dunia
hingga aku remaja, tepatnya selama 17 tahun. Perumahan di mana aku lahir dan
besar hingga remaja, penuh dengan kenangan baik indah maupun buruk. Seperti
pada 2008 terjadi gempa yang cukup keras sehingga membuat rumah kami retak,
atau saat sedang ramainya maling di daerah kami yang menyamar sebagai sensus
atau petugas PLN, kejadian itu sangat membuat kami ketakutan dan untungnya kami
tidak kehilangan apa pun dan tidak terluka juga. Lalu pada tahun baru 2012 kami
merayakan tahun baru dengan sangat meriah dan satu kompleks ikut merayakan
bersama-sama, atau pada saat hari kemerdekaan Indonesia kami merayakan 17-an
dengan lomba-lomba seperti balap karung, makan kerupuk, hingga paku botol.
Memori yang sangat menyenangkan dan aku bersyukur pernah tinggal di situ untuk
waktu yang cukup lama dengan kenangan-kenangan yang tidak akan aku lupakan.
Tinggal
di sana menyenangkan namun lambat laun kami harus pindah karena suasananya sudah
berubah dan munculnya tetangga yang tidak ramah membuat kami terganggu. Sedih,
namun kami juga ingin merasakan suasana baru. Ini adalah saat pertama kali aku
merasakan pindah rumah. Kami pun pindah tepat sehari setelah kurban
dilaksanakan.
Suasana
di sekitar rumah baru saat pagi hingga malam tidak ada bedanya, sunyi. Namun pada
siang hari terkadang ada beberapa anak-anak bermain untuk menikmati cerahnya
hari. Biasanya saat pagi hari aku suka berolahraga yaitu bersepeda. Biasanya selama
bersepeda aku sering mampir minimarket untuk membeli roti sebagai sarapan.
Sekitar
300 meter dari rumahku ada sebuah toko minuman kekinian yang biasa kita kenal
dengan boba. Aku sangat sering membeli di situ karena penjualnya berasal
dari Taiwan yang membuat rasa boba mereka unik dan orisinal. Bahkan saking
seringnya aku membeli sang penjual boba pun kenal denganku. Mereka membuat
sebuah kartu poin, jika kita membeli sebanyak 10 maka kita akan mendapat satu
minuman gratis.
Sayangnya
pada tahun 2020 wabah COVID-19 datang ke seluruh penjuru bumi yang membuat aku
tidak bisa ke mana-mana dengan mudah. Virus ini menyerang sistem pernafasan dan
menyebar lewat partikel super kecil atau bisa disebut microparticles
yang dapat masuk ke dalam mata, hidung, hingga mulut. Aku harus tetap diam di
rumah dan karantina selama virus itu masih tersebar di negeri tercinta ini.
Karena
virus ini, aku harus kuliah dari rumah atau biasa disebut WFH (Work From
Home). Kami kuliah menggunakan fitur video call conference agar masih
bisa bertatap muka walaupun secara tidak langsung. Hal ini membuat punggung
mudah capek karena harus duduk menatap layar selama berjam-jam. Perayaan lebaran
yang biasanya beramai-ramai saling mengucapkan permohonan maaf pun menjadi
ditunda karena kita tidak boleh bersentuhan dan menjaga jarak agar virus ini
tidak tersebar.

Komentar
Posting Komentar